Protesan #1 : Ketika Ada Orang yang Menyuruh Anda Berpikir, Bagaimana Reaksi Anda?

Ketika Ada Orang yang Menyuruh Anda Berpikir, Bagaimana Reaksi Anda?

            Kita lihat dulu konteksnya. Kalau sedang dalam ujian, tentu kita harus berpikir. Tapi bagaimana jika Anda disuruh berpikir hanya karena orang yang menyuruh demikian merasa paling berkuasa, merasa pantas untuk menyuruh demikian? Semata-mata karena sedang kesal. Bukan pengawas ujian, tetapi mungkin ambil saja contohnya dari salah-satu keluarga Anda. Bisa Ayah, Ibu, Kakak, Adik.

            Pengalaman saya, pernah saat itu saya sedang kurang tidur, karena kebetulan sedang libur, setelah sholat shubuh saya tidur lagi. Kebetulan pada saat itu Ibu saya sedang sakit. Lalu kakak saya menggebrak pintu kamar dan berteriak “Bangun!” pagi-pagi sekali. Dia mengatakan hal semacam, “Ibu lagi sakit bukannya mikir.” Kakak saya menyuruh saya menyapu dan mengepel lantai di luar, karena kemarin hujan jadi keadaan di luar lumayan kacau. Alih-alih to-the-point menyuruh saya menyapu, ngepel, kakak saya menyuruh saya mikir.

  Jelas sekali, ia hanya ingin memaki saya di pagi buta. Maksud saya, dia bisa saja hanya menyuruh saya menyapu tanpa ada makian menyuruh mikir.  Saya tidak marah, bukan, hanya saja tidak mau. Alhasil, sambil mengepel saya terus kepikiran kenapa kakak saya selalu menyuruh saya mikir ketika menyuruh saya beres-beres rumah.

Kakak saya adalah orang yang kekanak-kanakan, boros, touchy, temperamennya buruk, dan selalu iri terhadap saya. Saya masih rasional di sini, tandanya saya bicara fakta. Bukan karena saya suka ditindas jadi menjelek-jelekkan kakak saya.

Pernahkah kalian membayangkan, sekali saja, kalau kelahiran kalian tidak diharapkan?

Ya, kakak saya tidak mengharapkan saya lahir. Saat kecil, saya tidak ingat pernah diasuh oleh kakak saya. Yang saya ingat hanyalah saat ia mengusir saya supaya jauh-jauh. Saya sering dengar ketika Ibu dan kakak saya tengah bertengkar. Ibu saya selalu menyebut-nyebut, sebelum saya lahir, kakak saya menikmati semuanya secara berlebihan. Contohnya, setiap lebaran, sebelum saya lahir, kakak saya selalu membeli empat pasang baju. Saya menganga kala mendengarnya. Bagaimana tidak? Saya dari lahir sudah apa-apa dibagi dua dengan kakak saya. Begitulah, sejak saya lahir semua yang ia nikmati otomatis harus dibagi dua dengan saya. Jadilah, dia hanya mendapat dua pasang baju lebaran.

Di mata Ibu saya, saya selalu terlihat kekurangan. Dan di mata Ibu saya pula, kakak saya selalu terlihat kelebihan. Ya, karena saya belum pernah menikmati semuanya sebanyak yang kakak saya dapat saat kecil dulu. Tak heran, untuk menikmati semua yang saya inginkan, saya harus menabung dulu. Sejak kecil sudah begitu. Sementara kakak saya dibiasakan mendapat semuanya tanpa menabung, jadilah dia tumbuh menjadi seseorang yang awam menabung dan selalu memaksa.

Dari kecil, saya hanya menunjukkan sesuatu yang Ibu saya harapkan, sepert rajin menabung tadi contohnya. Ditambah, saat kecil saya selalu sakit-sakitan, jadilan Ibu saya lebih memerhatikan perhatiannya kepada saya. Dari mulai apa yang saya makan, siapa teman saya, kemana saya akan pergi. Saya anak kesayangan. Karena bagi Ibu saya, kelahiran, kehidupan saya adalah penting dan berharga. Bahkan tak jarang, saya selalu dianggap membawa berkah bagi keluarga ini. Itulah awal mula kenapa kakak saya selalu  iri terhadap saya.

Kakak saya benci melihat saya terlihat beruntung, selalu terlihat tenang. Ia benci jika saya tidur-tiduran. Tak jarang, saya suka melihat kakak saya memalingkan muka atau terlihat kesal setelah melihat saya sedang tidur atau bermalas-malasan. Kalau saya, saya tidak peduli mau tahu dia tidur sampe dhuhur pun. Karena, saya malas berurusan dengannya.

Bicara soal kakak saya, dia adalah guru SD di desa kami. Citranya di luar, tidak seburuk citranya di rumah. Jadi, tak heran dia selalu pencitraan dengan menyuruh keluarganya agar terlihat baik di mata orang lain. Seolah-olah ia pantas mengatur demikian.

Tapi, adakalanya pula ia terlihat normal, netral.

Kadang ia memberi saya makanan, minuman, atau apapun itu, bekas, baru, dia juga pernah menawarkan saya beli sepatu dan tas, dia yang bayar asalkan harganya kurang dari 50 ribu. Untuk makanan dan minuman, biasanya saya terima, mau baru ataupun bekas dia. Tapi untuk tawaran tas, sepatu, tidak saya terima. Bukannya saya berprasanga buruk terhadap niat baiknya, tetapi ia bukanlah orang yang dengan mudah memberi begitu saja. Ia akan menginginkan hutang budi yang pastinya merugikan saya. Karena dari kecil, ia selalu membuat syarat. Contohnya, dia mau sekolah asalkan ada sesuatunya. Begitu. Kesimpulannya, saya tidak mau menerima karena saya tidak sepenuhnya memercayai kakak saya. Saya takut akan ada syarat yang harus saya penuhi, karena apapunlah itu syaratnya pastilah akan memberatkan saya. Saya dengan iseng menyebutnya perjanjian dengan setan. Hahahahahhah

Begitulah kita-kira latar belakangnya. Saya heran kenapa ia selalu menyuruh saya mikir. Padahal ia tidak terlihat seperti seseorang yang bijak sehingga pantas melontarkan kata-kata demikian dengan kasar terhadap saya. Saya berencana akan membalas dengan, “kenapa saya terus yang disuruh mikir? Emangnya saya doang ya yang punya otak?”.

Moral yang bisa diambil, atau moral yang saya dapatkan, adalah jika seseorang menyuruhmu  demikian dalam lingkup konteks tidak nyambung jelas tindakan itu tidak penting. Dan yang paling penting adalah orang itu telah menyakiti perasaan kalian. Dari drama yang saya tonton, judulnya Mr. Sunshine, Kudo Hina salah satu tokoh berkata bahwa kita harus berhenti menangis dan sekali-kali menggigitlah. Tapi kita harus paham betul siapa yang harus kita gigit dan tidak.

Sekian protesan saya terhadap dunia. Terima kasih sudah membaca. 

P.S. Menerima kritikan dan saran. Bisa langsung komen saja. 

-E

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melangkah

    Berbekal keyakinan, aku melangkah menuju tempat yang sama-sekali tidak aku sangka. Sebuah kota yang jauh dari kota kecilku.      Semaran...