Ketika Ada Orang yang Menyuruh Anda
Berpikir,
Bagaimana
Reaksi
Anda?
Kita
lihat dulu konteksnya. Kalau sedang dalam ujian, tentu kita harus berpikir.
Tapi bagaimana jika Anda disuruh berpikir hanya karena orang yang menyuruh
demikian merasa paling berkuasa, merasa pantas untuk menyuruh demikian?
Semata-mata karena sedang kesal. Bukan pengawas ujian, tetapi mungkin ambil
saja contohnya dari salah-satu keluarga Anda. Bisa Ayah, Ibu, Kakak, Adik.
Pengalaman
saya, pernah saat itu saya sedang kurang tidur, karena kebetulan sedang libur,
setelah sholat shubuh saya tidur lagi. Kebetulan pada saat itu Ibu saya sedang
sakit. Lalu kakak saya menggebrak pintu kamar dan berteriak “Bangun!” pagi-pagi
sekali. Dia mengatakan hal semacam, “Ibu lagi sakit bukannya mikir.” Kakak saya
menyuruh saya menyapu dan mengepel lantai di luar, karena kemarin hujan jadi
keadaan di luar lumayan kacau.
Jelas sekali, ia hanya ingin memaki
saya di pagi buta. Maksud saya, dia bisa saja hanya menyuruh saya menyapu tanpa
ada makian menyuruh mikir. Saya tidak
marah, bukan, hanya saja tidak mau. Alhasil, sambil mengepel saya terus
kepikiran kenapa kakak saya selalu menyuruh saya mikir ketika menyuruh saya
beres-beres rumah.
Kakak saya adalah orang yang
kekanak-kanakan, boros, touchy, temperamennya buruk, dan selalu iri terhadap
saya. Saya masih rasional di sini, tandanya saya bicara fakta. Bukan karena
saya suka ditindas jadi menjelek-jelekkan kakak saya.
Pernahkah kalian membayangkan,
sekali saja, kalau kelahiran kalian tidak diharapkan?
Ya, kakak saya tidak
mengharapkan saya lahir. Saat kecil, saya tidak ingat pernah diasuh oleh kakak
saya. Yang saya ingat hanyalah saat ia mengusir saya supaya jauh-jauh. Saya
sering dengar ketika Ibu dan kakak saya tengah bertengkar. Ibu saya selalu
menyebut-nyebut, sebelum saya lahir, kakak saya menikmati semuanya secara
berlebihan. Contohnya, setiap lebaran, sebelum saya lahir, kakak saya selalu
membeli empat pasang baju. Saya menganga kala mendengarnya. Bagaimana tidak?
Saya dari lahir sudah apa-apa dibagi dua dengan kakak saya. Begitulah, sejak
saya lahir semua yang ia nikmati otomatis harus dibagi dua dengan saya.
Jadilah, dia hanya mendapat dua pasang baju lebaran.
Di mata Ibu saya, saya selalu
terlihat kekurangan. Dan di mata Ibu saya pula, kakak saya selalu terlihat
kelebihan. Ya, karena saya belum pernah menikmati semuanya sebanyak yang kakak
saya dapat saat kecil dulu. Tak heran, untuk menikmati semua yang saya
inginkan, saya harus menabung dulu. Sejak kecil sudah begitu. Sementara kakak
saya dibiasakan mendapat semuanya tanpa menabung, jadilah dia tumbuh menjadi
seseorang yang awam menabung dan selalu memaksa.
Dari kecil, saya hanya
menunjukkan sesuatu yang Ibu saya harapkan, sepert rajin menabung tadi
contohnya. Ditambah, saat kecil saya selalu sakit-sakitan, jadilan Ibu saya
lebih memerhatikan perhatiannya kepada saya. Dari mulai apa yang saya makan,
siapa teman saya, kemana saya akan pergi. Saya anak kesayangan. Karena bagi Ibu
saya, kelahiran, kehidupan saya adalah penting dan berharga. Bahkan tak jarang,
saya selalu dianggap membawa berkah bagi keluarga ini. Itulah awal mula kenapa
kakak saya selalu iri terhadap saya.
Kakak saya benci melihat saya
terlihat beruntung, selalu terlihat tenang. Ia benci jika saya tidur-tiduran.
Tak jarang, saya suka melihat kakak saya memalingkan muka atau terlihat kesal
setelah melihat saya sedang tidur atau bermalas-malasan. Kalau saya, saya tidak
peduli mau tahu dia tidur sampe dhuhur pun. Karena, saya malas berurusan
dengannya.
Bicara soal kakak saya, dia
adalah guru SD di desa kami. Citranya di luar, tidak seburuk citranya di rumah.
Jadi, tak heran dia selalu pencitraan dengan menyuruh keluarganya agar terlihat
baik di mata orang lain. Seolah-olah ia pantas mengatur demikian.
Tapi, adakalanya pula ia
terlihat normal, netral.
Kadang ia memberi saya makanan,
minuman, atau apapun itu, bekas, baru, dia juga pernah menawarkan saya beli
sepatu dan tas, dia yang bayar asalkan harganya kurang dari 50 ribu. Untuk
makanan dan minuman, biasanya saya terima, mau baru ataupun bekas dia. Tapi
untuk tawaran tas, sepatu, tidak saya terima. Bukannya saya berprasanga buruk
terhadap niat baiknya, tetapi ia bukanlah orang yang dengan mudah memberi
begitu saja. Ia akan menginginkan hutang budi yang pastinya merugikan saya.
Karena dari kecil, ia selalu membuat syarat. Contohnya, dia mau sekolah asalkan
ada sesuatunya. Begitu. Kesimpulannya, saya tidak mau menerima karena saya
tidak sepenuhnya memercayai kakak saya. Saya takut akan ada syarat yang harus
saya penuhi, karena apapunlah itu syaratnya pastilah akan memberatkan saya.
Saya dengan iseng menyebutnya perjanjian dengan setan. Hahahahahhah
Begitulah kita-kira latar
belakangnya. Saya heran kenapa ia selalu menyuruh saya mikir. Padahal ia tidak
terlihat seperti seseorang yang bijak sehingga pantas melontarkan kata-kata
demikian dengan kasar terhadap saya. Saya berencana akan membalas dengan,
“kenapa saya terus yang disuruh mikir? Emangnya saya doang ya yang punya
otak?”.
Moral yang bisa diambil, atau moral yang saya dapatkan, adalah jika seseorang menyuruhmu demikian dalam lingkup konteks tidak nyambung jelas tindakan itu tidak penting. Dan yang paling penting adalah orang itu telah menyakiti perasaan kalian. Dari drama yang saya tonton, judulnya Mr. Sunshine, Kudo Hina salah satu tokoh berkata bahwa kita harus berhenti menangis dan sekali-kali menggigitlah. Tapi kita harus paham betul siapa yang harus kita gigit dan tidak.
Sekian protesan saya terhadap
dunia. Terima kasih sudah membaca.
P.S. Menerima kritikan dan saran. Bisa langsung komen saja.
-E
Tidak ada komentar:
Posting Komentar