Blog ini akan menjadi wadah untuk tulisan-tulisan yang saya ciptakan ketika sedang melamun. Bisa berupa sekedar cerita harian, cerpen, opini, protesan saya terhadap dunia, rekomendasi buku, lagu, film, series, semuanya! Saya berusia 17, tengah malas mengulas materi persiapan UAS. Salam kenal, semuanya.
Melangkah
Childhood Story #1: Belajar Naik Sepeda
Memori terbaik yang aku punya sampai sejauh ini ya memori masa kecil. Dulu, aku adalah pribadi yang gak sungkan buat nangis, gak sungkan juga buat jingkrak-jingkrak karena bahagia. Normalnya anak kecil.
Sebelum tidur, memori itu bak rekaman yang mengantarku kepada alam mimpi. Walaupun kadang bukan mimpi indah. Tapi, setelah kericuhan yang terjadi seharian, aku balik senyum lagi kalo nostalgiain masa kecil. Andai aku dulu ngerekam semua kejadian. Itu bakalan barang termahal yang aku punya. Tapi, aku terlalu bersenang-senang. Dulu, istilah merekam aja belum tahu.
Aku dapet sepeda pertamaku saat aku umur tiga tahun (sepertinya). Iya, aku masih kecil banget. Sepedanya juga kecil banget hahahahaha. Dapet beli second dari Pak Eri, Tukang Ojek langganan Bapakku. Sepedanya tuh jelek banget! Tapi sengaja. Katanya yang jelek aja dulu, masih belajar ini. Tapi pas tahu aku dibeliin sepeda itu, aku seneng kebangetan! Hmm tidak sampai sesi latihan belajar sepeda sama...
Dulu, pas belajar sepeda pertama kali, aku diajarin
tetangaku. Di mana dia ini notabene-nya agak preman. Aku inget didorong kenceng
banget sampe mau masuk got. Sama dia. Tanpa roda tambahan. Dia
ngajarin aku tanpa basa-basi, tanpa ada teori, dia cuma dorong aku dari
belakang terus-menerus. Setiap kali aku ketakutan (teriak, mata udah kacaan),
dia akan bilang, “enggak kok, engak. Ayo gowes aja. Jangan takut jatoh.”.
Dia berani banget waktu itu dorong anak orang di
atas sepeda, yang bahkan belum bisa balance. Dia bener-bener berani banget. Alhasil, aku
juga berani. Setelah beberapa kali aku didorong sama dia, aku berhasil. Aku bisa
gowes, mendadak aku bisa balance, bisa belok. Dia nyuruh aku buat berani, dia
ngajarin aku dengan nekat. Gak ada basi-basi dipapah, langsung dorong. Enggak sampe
3 hari, aku udah kebut-kebutan naik sepeda di umur tiga tahun (sepertinya).
Tapi sayangnya aku belum berterima-kasih sama dia. Karena waktu dulu, aku menganggap sesi latihan sama dia itu menakutkan. Tapi pas udah bisa aku girang banget, keliling kampung tiap hari. Saking antusiasnya, sampe lupa bilang makasih sama guruku alias tetanggaku alias preman kecil itu. Kabar baiknya, sekarang Guruku itu udah pensiun jadi preman. Sekarang dia buka usaha kecil-kecilan.
Dan ilmu yang aku dapat dari beliau, aku praktekin ke temenku. Hahahaha (evil laugh). Tapi aku gak mau bikin anak orang celaka, jadi aku papah pelan-pelan. Dari siang sampe sore. Dia yang udah lama banget pake roda tambahan, besoknya dia copot. Aku gak sadar, saat itu aku udah bisa bikin seseorang berhasil meraih goals-nya. Tapi aku turut senang sekali. Aku teriak kesenengan pas ternyata dia memberanikan diri buat terus liat ke depan dan gowes tanpa takut jatoh, akhirnya dia pun bisa! Wow. Aku jingkrak-jingkrak bahagia banget.
Kayaknya aku bakalan excited banget buat ngebahas masa kecilku. Sepertinya aku harus bikin series khusus buat bahas masa kecil aku. OMG so excited !!! Aku jadi gak sabar buat cerita. Love y'all.
Sekian.
-
E
Ngedrakor #1 : Mr. Sunshine
Halo. Saya deg-degan, jujur.
Postingan ini agak spesial buat saya. Kenapa? Karena ini merupakan episode pertama dari ‘Ngedrakor’. Terlebih, saya akan membahas Mr. Sunshine.
Di sini, saya sebagai pemula, tidak berniat
menulis ulasan. Membahas keunggulan ataupun kelemahan dari drakor ini (secara
teori). Kritik, saran. Saya merasa untuk membuat ulasan yang itu butuh landasan teori, sementara saya
hanya seneng-senengan aja. Anggap saya teman
kalian dan kita tengah mengobrol.
Untuk drama apik sekelas Mr.
Sunshine, jujur saya agak miris kenapa teman-teman saya yang juga sama
menggandrungi drakor sama-sekali tidak pernah mendengar judul drakor legendaris
ini. Karena dulu pun saya begitu.
Sebenarnya, saya sangat menyukai
drakor dan mengikuti media. Rekomendasi Drama Korea, Drama Korea Legendaris,
Drakor yang Gak Mulu Cinta-cintaan, dsb. Di twitter juga saya sangat mengikuti
kabar-kabar terbaru mengenai drakor maupun aktris/aktornya. Yang selalu saya
dapati ketika sedang mencari rekomendasi drakor di antranya ada Reply ’88,
Prison Playbook, Hospital Playlist, Because This Is My First Life, Signal, When
The Camellia Blooms, dan salah satunya ialah Mr. Sunshine.
Dulu saya sekedar mengetahui judulnya
saja, tidak ditonton. Karena genre yang tertera di Google hanya roman saja. Pemainnya
juga saya tidak pernah lihat, iya, parah banget, masa nggak tahu Lee Byung Hun?
Hahahahhahaah maklum dulu saya masih awam dengan aktor/aktris senior Korea
Selatan. Ditambah, dulu saya tidak terlalu suka saeguk, karena kesannya terlalu
membosankan, formal, dan saya suka tidak bisa membedakan antar pemain
kakek-kakek karena wajah mereka ditutupi jenggot; padahal peran mereka penting.
Drakor saeguk pertama saya Mr. Queen hahahhaha, dari sana saya mulai belajar
menonton saeguk.
Sampai akhirnya saya melihat Space
Sweepers. Di sana saya melihat Kim Tae Ri yang memerankan sosok Kapten Jang,
yang, beuh, keren abis. Iya, saya langsung nge-fans. Akhirnya saya menonton
Little Forest, salah-satu film yang juga dibintangi Kim Tae Ri. Lalu singkat
cerita, ada drakor on going berjudul Twenty Five Twenty One. Saya tergiur untuk
menonton, ada Kim Tae Ri-nya!!! Sempet girang banget. Tapi gak jadi nonton. Karena
pengen nonton Mr. Sunshine dulu. Gak tau kesurupan apa. Tiba-tiba kepikiran.
Dan akhirnya, saya melongo semaleman
untuk dua episode pertama…
Ini drama
produksinya berapa sih?
Kok penggunaan
bahasanya cantik banget?
Gimana bisa
kepikiran cerita sebagus ini?
Ini kisah
nyata apa bukan ya?
Serius ini actor
korea ngomong bahasa Jepang, kok fasih banget?!
Ahn Jeong
Won?! Lu beneran dokter lucu itu?! Gila kejem banget kok bisa-bisanya dia dapet
peran dokter baik hati di masa depan?
AHN JEONG
WON????
Ya, besoknya saya binge watch Mr. Sunshine.
Sepanjang nonton saya selalu
terkagum-kagum, menutup mulut, teriak emosi, dan lainnya. Tapi jujur saja, saya
kurang suka dengan romannya. Selalu saya skip. Gak tahu, kayak kurang suka
cinta-cintan yang terlalu roman banget gitu. Roman suka cuman kayak Ae Sin sama
Eugene tuh terlalu kayak jatohnya roman banget jujur gak dapet juga feel-nya. Saya ngeshipnya #AeSin_GuDongMae.
Unik aja, dan lebih bikin deg-degan.
Untuk tokoh favorit saya jatuh
kepada…
Kim Hee Sung.
Awalnya udah pesimis banget sama Hee
Sung tapi dia ramah banget dan bukan sekedar gimik. Yang paling bikin nangis
itu pas dia buka perusahaan Koran tanpa namanya dia, dan dia cuma nempelin
bunga aja di papan nama perusahaannya. If
you know, you know ok?. Gak mau spoiler keabanyakan.
Dan untuk tokoh yang paling saya
benci jatuh kepada… (selain Lee Wan Ik)
Hotaru.
Mungkin niat dia baik, tapi saya
masih kesel aja sampe sekarang.
Lalu episode yang paling rame
(menurut saya) jatuh kepada…
19.
Tidak hanya membuat emosi, drakor
ini memberi wawasan kepada siapapun yang menonton. Saya tidak pernah tahu bahwa
Korea Selatan pernah separah itu keadaannya. Dari mulai pengkhianat korup
sampai tergulingnya Kaisar Gojong. Saya sangat geram sepanjang nonton, sampai
saya tahu ternyata drakor ini merupakan kisah nyata. See? Saya jadi tahu tragedi 1871, 1905, 1907 di Joseon. Dan drakor
ini menjawab pertanyaan saya kenapa kebanyakan orang korea selalu sensitif mengenai
Jepang maupun China. Mereka, sampai sekarang sangat-sangat melindungi tradisi
Joseon dan mengingat kejadian-kejadian mengharukan di masa lalu yang terjadi
pada negaranya.
Untuk mereka yang sudah berjuang
menjunjung tinggi kedaulatan dan tidak menjual negaranya untuk memenuhi hasrat.
RIP.
Apakah drama ini layak ditonton? Jawaban
saya, sangat sangat sayang untuk dilewatkan.
Sekian, terima kasih sudah membaca. Untuk
kritik dan saran bisa langsung komen saja.
-E
Protesan #1 : Ketika Ada Orang yang Menyuruh Anda Berpikir, Bagaimana Reaksi Anda?
Ketika Ada Orang yang Menyuruh Anda
Berpikir,
Bagaimana
Reaksi
Anda?
Kita
lihat dulu konteksnya. Kalau sedang dalam ujian, tentu kita harus berpikir.
Tapi bagaimana jika Anda disuruh berpikir hanya karena orang yang menyuruh
demikian merasa paling berkuasa, merasa pantas untuk menyuruh demikian?
Semata-mata karena sedang kesal. Bukan pengawas ujian, tetapi mungkin ambil
saja contohnya dari salah-satu keluarga Anda. Bisa Ayah, Ibu, Kakak, Adik.
Pengalaman
saya, pernah saat itu saya sedang kurang tidur, karena kebetulan sedang libur,
setelah sholat shubuh saya tidur lagi. Kebetulan pada saat itu Ibu saya sedang
sakit. Lalu kakak saya menggebrak pintu kamar dan berteriak “Bangun!” pagi-pagi
sekali. Dia mengatakan hal semacam, “Ibu lagi sakit bukannya mikir.” Kakak saya
menyuruh saya menyapu dan mengepel lantai di luar, karena kemarin hujan jadi
keadaan di luar lumayan kacau.
Jelas sekali, ia hanya ingin memaki
saya di pagi buta. Maksud saya, dia bisa saja hanya menyuruh saya menyapu tanpa
ada makian menyuruh mikir. Saya tidak
marah, bukan, hanya saja tidak mau. Alhasil, sambil mengepel saya terus
kepikiran kenapa kakak saya selalu menyuruh saya mikir ketika menyuruh saya
beres-beres rumah.
Kakak saya adalah orang yang
kekanak-kanakan, boros, touchy, temperamennya buruk, dan selalu iri terhadap
saya. Saya masih rasional di sini, tandanya saya bicara fakta. Bukan karena
saya suka ditindas jadi menjelek-jelekkan kakak saya.
Pernahkah kalian membayangkan,
sekali saja, kalau kelahiran kalian tidak diharapkan?
Ya, kakak saya tidak
mengharapkan saya lahir. Saat kecil, saya tidak ingat pernah diasuh oleh kakak
saya. Yang saya ingat hanyalah saat ia mengusir saya supaya jauh-jauh. Saya
sering dengar ketika Ibu dan kakak saya tengah bertengkar. Ibu saya selalu
menyebut-nyebut, sebelum saya lahir, kakak saya menikmati semuanya secara
berlebihan. Contohnya, setiap lebaran, sebelum saya lahir, kakak saya selalu
membeli empat pasang baju. Saya menganga kala mendengarnya. Bagaimana tidak?
Saya dari lahir sudah apa-apa dibagi dua dengan kakak saya. Begitulah, sejak
saya lahir semua yang ia nikmati otomatis harus dibagi dua dengan saya.
Jadilah, dia hanya mendapat dua pasang baju lebaran.
Di mata Ibu saya, saya selalu
terlihat kekurangan. Dan di mata Ibu saya pula, kakak saya selalu terlihat
kelebihan. Ya, karena saya belum pernah menikmati semuanya sebanyak yang kakak
saya dapat saat kecil dulu. Tak heran, untuk menikmati semua yang saya
inginkan, saya harus menabung dulu. Sejak kecil sudah begitu. Sementara kakak
saya dibiasakan mendapat semuanya tanpa menabung, jadilah dia tumbuh menjadi
seseorang yang awam menabung dan selalu memaksa.
Dari kecil, saya hanya
menunjukkan sesuatu yang Ibu saya harapkan, sepert rajin menabung tadi
contohnya. Ditambah, saat kecil saya selalu sakit-sakitan, jadilan Ibu saya
lebih memerhatikan perhatiannya kepada saya. Dari mulai apa yang saya makan,
siapa teman saya, kemana saya akan pergi. Saya anak kesayangan. Karena bagi Ibu
saya, kelahiran, kehidupan saya adalah penting dan berharga. Bahkan tak jarang,
saya selalu dianggap membawa berkah bagi keluarga ini. Itulah awal mula kenapa
kakak saya selalu iri terhadap saya.
Kakak saya benci melihat saya
terlihat beruntung, selalu terlihat tenang. Ia benci jika saya tidur-tiduran.
Tak jarang, saya suka melihat kakak saya memalingkan muka atau terlihat kesal
setelah melihat saya sedang tidur atau bermalas-malasan. Kalau saya, saya tidak
peduli mau tahu dia tidur sampe dhuhur pun. Karena, saya malas berurusan
dengannya.
Bicara soal kakak saya, dia
adalah guru SD di desa kami. Citranya di luar, tidak seburuk citranya di rumah.
Jadi, tak heran dia selalu pencitraan dengan menyuruh keluarganya agar terlihat
baik di mata orang lain. Seolah-olah ia pantas mengatur demikian.
Tapi, adakalanya pula ia
terlihat normal, netral.
Kadang ia memberi saya makanan,
minuman, atau apapun itu, bekas, baru, dia juga pernah menawarkan saya beli
sepatu dan tas, dia yang bayar asalkan harganya kurang dari 50 ribu. Untuk
makanan dan minuman, biasanya saya terima, mau baru ataupun bekas dia. Tapi
untuk tawaran tas, sepatu, tidak saya terima. Bukannya saya berprasanga buruk
terhadap niat baiknya, tetapi ia bukanlah orang yang dengan mudah memberi
begitu saja. Ia akan menginginkan hutang budi yang pastinya merugikan saya.
Karena dari kecil, ia selalu membuat syarat. Contohnya, dia mau sekolah asalkan
ada sesuatunya. Begitu. Kesimpulannya, saya tidak mau menerima karena saya
tidak sepenuhnya memercayai kakak saya. Saya takut akan ada syarat yang harus
saya penuhi, karena apapunlah itu syaratnya pastilah akan memberatkan saya.
Saya dengan iseng menyebutnya perjanjian dengan setan. Hahahahahhah
Begitulah kita-kira latar
belakangnya. Saya heran kenapa ia selalu menyuruh saya mikir. Padahal ia tidak
terlihat seperti seseorang yang bijak sehingga pantas melontarkan kata-kata
demikian dengan kasar terhadap saya. Saya berencana akan membalas dengan,
“kenapa saya terus yang disuruh mikir? Emangnya saya doang ya yang punya
otak?”.
Moral yang bisa diambil, atau moral yang saya dapatkan, adalah jika seseorang menyuruhmu demikian dalam lingkup konteks tidak nyambung jelas tindakan itu tidak penting. Dan yang paling penting adalah orang itu telah menyakiti perasaan kalian. Dari drama yang saya tonton, judulnya Mr. Sunshine, Kudo Hina salah satu tokoh berkata bahwa kita harus berhenti menangis dan sekali-kali menggigitlah. Tapi kita harus paham betul siapa yang harus kita gigit dan tidak.
Sekian protesan saya terhadap
dunia. Terima kasih sudah membaca.
P.S. Menerima kritikan dan saran. Bisa langsung komen saja.
-E
Kenapa "EIGHTMERALD" dan bukan "EMERALD"?
Jadi, Apa Itu EMERALD?
Seperti yang kita tahu, emerald merupakan kata dalam bahasa Inggris yang berarti "permata", yang di mana merupakan nama terakhir saya. Saya pernah dengan bangga berpikir bahwa nama terkahir saya sangat mewah. Pernah kepikiran, "wah berarti nanti kalo ke luar negeri dipanggilnya Miss Permata dong?" Sambil menghayal ngopi di London. Kayak mewah banget gitu, di mana teman saya kebanyakan nama terakhirnya "putri", kayak flat banget. Hahahahah
Tapi Kenapa EIGHTMERALD dan Bukan EMERALD?
Sebenarnya nama EIGHTMERALD adalah cikal bakal nama pena hasil dari projek saya bersama teman saya. Sepanjang pandemi, kita malah jadi lebih dekat. Kita kontakan lewat WhatsApp dan kepikiran ide yang tiba-tiba. Saat itu, saya memang suka bikin cerita. Awal nulis saya ingin menjadikan karya ini menjadi sebuah novel thriller. Saya inget banget, waktu itu sangat berharap ceritanya bakalan jadi most read story di Wattpad sebelum akhirnya diterbitin.
Baru sampe chapter 3, saya udah kontak temen saya duluan. Nanya gimana pendapatnya. Dia bilang bagus dan malah jadi ikutan berkontribusi.
Dia lahir di tanggal 8 bulan Agustus, ya, 88. Dan kebetulan saya juga lahir di bulan Agustus. Saya pikir 8 itu sangat sakral dan menarik juga kalo dijadikan salah satu makna dibalik EIGHTMERALD.
Tapi sayangnya, projek kami tidak pernah selesai. Begitulah kira-kira.
Terima kasih sudah membaca. Salam kenal semuanya.
-E
Melangkah
Berbekal keyakinan, aku melangkah menuju tempat yang sama-sekali tidak aku sangka. Sebuah kota yang jauh dari kota kecilku. Semaran...