Semarang.
Bagiku, bisa berkuliah adalah suatu privillege. Mau nantinya sesulit apapun aku menjalani hari-harinya, sendirian, aku berjanji akan mensyukuri semua apa adanya. Tapi siapa sangka ternyata kotanya adalah... Semarang. Aku benar-benar tidak pernah bermimpi apapun, berharap apapun kepada Semarang sebelumnya. Kota yang panas, panas sekali.
Sudah sejauh ini, aku masih menjalani bagaimana hari ini akan berakhir. Setiap harinya. Aku belum membayangkn bagaimana akhir dari semua perjalananku, aku akan bagaimana dan seperti apa nantinya. Aku, jujur, masih tidak tahu apakah langkahku sudah benar. Terkadang aku juga diresahkan dengan bayangan buruk mengenai akhir dar perjalananku ini. Aku berharap, di setiap kesulitan yang telah maupun akan kuhadapi akan berarti baik bagiku dan mengantarku ke akhir yang baik. Tidak ada kesia-siaan dan hanya berakhir baik dan bermafaat bagi hidupku.
Di tengah kebingunganku yang begitu amat, keanehan lainnya datang. Aku mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Tentang bagaimana laki-laki yang aku sukai ternyata sudah mustahil aku sukai lagi. Entahlah, semua itu, semua perasaanku, menjadi sangat terasa salah. Untuk pertama kalinya juga, semesta mengajarkanku bagaimana aku akan menghadapi seseorang yang begitu ku anggap spesial, tetapi kini dia merupakan seorang kekasih dari laki-laki itu. Untuk pertama kalinya, aku merasakan perasaan teraneh, tetapi bukan benci. Sebagai orang terdekatnya, aku tak mungkin menganggap isi hati mereka salah dan tidak benar. Saatnya lah aku membiarkan semuany alarut dengan sendirinya. Perasaan-perasaanku.
Aku hanya berharap segala sesuatu akan terlaksana dan dimudahkan. Aku ingin mengubah diriku dan menjadi seseorang yang baru tanpa rasa benci.
- E